Bisnis Online

    Belanja Buku Online


    Masukkan Code ini K1-DC29DE-2
    untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Pengaruh Temperatur Terhadap Reaksi Fosfonat dalam Inhibitor Kerak pada Sumur Minyak


The Effect of Temperature to Phosphonate Reaction in Scale Inhibitor at the Oil Fields
Asnawati
Staf Pengajar Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Jember
Abstrak
Salah satu cara untuk menegah formasi kerak pada sumur minyak adalah dengan cara memasukkan inhibitor kerak pada formasi air. Temperatur dari formasi air cukup tinggi untuk mempengaruhi stabilitas dari inhibitor. Oleh karena itu perlu dipelajari bagaimana temperatur bisa mempengaruhi hal tersebut. Dengan tujuan tersebut, tipe dari inhibitor kerak yang digunakan adalah Jet-Cote 592 dan Servo-UCA 301. Inhibitor ini dimasukkan pada formasi air di Pematang dan Bekasap Selatan. Untuk menentukan kandungan fosfat dan fosfonat di dalam inhibitor kerak di gunakan metode asam askorbat dengan Spektrometer. Hasil menunjukkan bahwa temperatur mempengaruhi perubahan fosfonat, hal ini akan menjadi semakin tinggi ketika temperatur dinaikkan. Perubahan fosfonat yang berasal dari sumur minyak Bekasap Selatan dan Pematang menunjukkan formasi air adalah 5,99% dan 8,36% untuk Servo-UCA 301, 6,13 dan 8,24 untuk Jet-Cote 592.
Kata Kunci: temperatur, suhu, fosfonat, inhibitor kerak, spektrometri, temperature, phosphonate, scale inhibitor, spectrometry
Download Jurnal

Bookmark and Share

Pembuatan Elektroda Selektif – Ion Cu (II) Dari Kitosan-Polietilen Oksida


Saharman Gea, Andriyani, Sovia Lenny
Program Studi Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Tujuan umum dari penelitian ini adalah membuat elektorda selektif-ion Cu(II) dan membran kitosan dengan polietilen oksida sebagai matriks dan etilen karbonat sebagai pemlastis. Membran Cu2+ - Kitosan divarisasikan menjadi 3 berdasarkan perbandingan campuran Kitosan, Polietilen oksida (PEO) dan etilen karbonat (EC), yaitu 7:3:2, 6:3:2, dan 6:3:1. Kemudian membran dipotong menjadi beberapa bagian lalu dicelupkan ke dalam larutan CuSO4 dengan beberapa variasi konsentrasi. Konduktivitas diukur dengan metode penduga empat titik (four-point probe). Karakterisasi membran Cu2+ - Kitosan dianalisa dengan spektroskopi FT-IR dengan melihat perubahan bilangan gelombang gugus amin dan asetilamida dari kitosan yang memungkinkan membentuk kompleks dengan ion Cu2+, dan analisa XRD untuk melihat pengaruh penambahan ion Cu2+ pada membran. Membran Cu2+ -Kitosan sebagai elektroda kerja dirangkai dengan membran gelas yang telah diisi dengan CUSO4 1 M yang ditambahkan KNO3 1 M sebagai larutan-dalam dengan perbandingan 1 : 4. Dari hasil penelitian pembuatan dan karakterisasi ESI Cu2+ ini, diketahui Membran Cu2+ - Kitosan dapat digunakan sebagai elektroda selektif ion Cu2+ dengan komposisi Kitosan : PEO : EC = 7: 3 : 2. Konsentrasi Optimum dopan Cu2+ adalah 1,0 M dengan harga konduktivitas 301,10 Ohm-1m-1 pada ketebalan tetap 0,38 mm. Harga Faktor nernst 28,1 m V/dekade, batas deteksi pengukuran 4,16 x 10-5 M, waktu tanggap pada larutan standar 10-1 M yaitu 90 detik dan waktu hidup selama 7 minggu.
Kata Kunci: elektroda selektif ion Cu(II), Kitosan, Polietilen Oksida

Esterifikasi Patchouli Alkohol Hasil Isolasi Dari Minyak Daun Nilam (Patchouli Oil)


Rumondang Bulan
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi minyak nilam dari daun nilam, dan selanjutnya dilakukan isolasi dan identifikasi komponen utama minyak nilam yaitu senyawa patchouli alkohol, dan kemudian Mengubah patchouli alkohol menjadi senyawa turunannya. Minyak nilam diisolasi dari daun nilam dengan menggunakan destilasi air dari uap dan kandungan minyak diperoleh sekitar 3,40 %. Sifat fisis minyak nilam adalah : Berat jenis = 0,9550 g/ml (25°C), Indeks bias = 1,50615 (25°C), Putaran optik = -53, 55. Menurut SII 0069-75 adalah : Berat jenis (25°C) = 0,950-0,983 g/ml, Indeks bias (25°C) = 1,506-1,520, Putaran optik = -47 s/d -66. Hasil isolasi minyak nilam diperoleh patchouli alkohol sekitar 45,84 %, diisolasi dengan destilasi fraksinasi. Mempunyai titik lebur 55,5-56°C. Esterifikasi terhadap patchouli alkohol dengan asam asetat dan katalis asam sulfat menghasilkan patchouli asetat.
Kata Kunci: Esterifikasi, isolasi, minyak nilam, patchouli alkohol
Download Jurnal

Isolasi Kitinase dari Scleroderma columnare dan Trichoderma harzianum


Isolation of Chitinase From Scleroderma columnare and Trichoderma harzianum
S.K. Susi Wijaya
Staf Pengajar Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Jember
Jl. Kalimantan 37 Jember 68121
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memurnikan kitinase dari S. columnare dan T. harzianum. Kitinase di ekstrak menggunakan tiga bahan pelarut, yaitu amonium sulfat, etanol dan aseton. Pemurnian kitinase bertujuan untuk menurunkan aktivitas kitinase, tapi pada bagian tertentu aktivitas kitinase akan meningkat. Ekstraktor yang paling efektif untuk kitinase adalah amonium sulfat karena menghasilkan kitinase yang paling murni. T. harzianum menghasilkan kitinase lebih murni dari pada S. columnare.
Kata kunci:
Kitinase, Scleroderma columnare, Trichoderma harzianum

Sintesis Polieugenol Dengan Katalis Asam Sulfat


Synthesis of Polyeugenol with Sulfuric Acid Catalyst
Wuryanti Handayani
Staf Pengajar Jurusan Kimia FMIPA Universitas Jember
Abstrak
Telah dilakukan sebuah penelitian tentang sintesis polieugenol dengan katalis asam sulfat. Pada penelitian ini minyak daun cengkeh di ekstrak dan difraksionasi untuk menghasilkan eugenol. Polimerisasi eugenol dengan asam sulfat dilakukan dengan beberapa variasi perbandingan. Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh bahwa fraksi 3 merupakan eugenol yang paling murni dibandingkan dengan fraksi yang lain. Polieugenol dengan perbandingan katalisator: monomer = 1:2 merupakan polimer yang terbaik. Pada perbandingan katalisator: monomer = 1:8, polieugenol tidak ditemukan.
Kata Kunci: Sintesis, Polieugenol, Asam sulfat

Peluang Usaha

Kerja Sampingan